


1. Mendengar
Tanyakan pada Yesus: “Apakah ada rasa takut di hatiku yang perlu kupercayakan kepada-Mu hari ini?”
2. Mengetahui
Aku milik Allah dan Dia tinggal di dalamku. – 1 Yohanes 4:4
3. Berbagi
Bersikap baiklah untuk seseorang yang dikucilkan atau diejek, dan ingatkan mereka bahwa mereka tidak sendirian.
(Marrakech, Maroko)
Marrakech adalah kota dengan sinar matahari yang hangat, tembok merah, dan jalanan yang ramai. Di bagian kota tua, lorong-lorong sempit berkelok-kelok seperti labirin. Keledai menarik gerobak berisi jeruk dan daun mint. Orang-orang menjual lentera terang, tas kulit, dan kue-kue manis yang ditaburi gula. Di malam hari, udara dipenuhi dengan suara genderang dan aroma makanan panggang dari warung-warung pasar.
Youssef yang berusia sepuluh tahun sangat senang pergi ke pasar bersama ayahnya. Dia senang menonton pawang ular dan mendengarkan cerita dari anak laki-laki yang lebih tua yang bertindak berani dan gagah.
Namun terkadang Youssef tidak merasa berani di dalam hatinya.
Terkadang, di malam hari, ia mengalami mimpi buruk. Kadang-kadang ia merasakan beban kekhawatiran yang berat di dadanya, bahkan ketika tidak ada hal buruk yang terjadi. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskannya, jadi ia menyimpannya sendiri.
Suatu sore, bibi Youssef datang berkunjung. Ia membawa sepupunya, Samira, yang seusia dengan Youssef. Samira ceria dan tenang, tipe orang yang mudah tersenyum.
Saat orang dewasa mengobrol, Youssef dan Samira bermain di atap rumah tempat mereka bisa melihat kota terbentang di kejauhan.
Samira memperhatikan Youssef lebih pendiam dari biasanya.
“Apakah kamu baik-baik saja?” tanyanya lembut.
Youssef mengangkat bahu. “Terkadang aku merasa… terganggu. Seperti aku tidak bisa rileks.”
Samira mengangguk seolah mengerti. Lalu dia mengatakan sesuatu yang mengejutkan.
“Saat aku merasa seperti itu, aku berbicara kepada Yesus.”
Youssef berkedip. "Yesus?"“
Samira melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada orang di dekatnya, lalu berbisik, “Ya. Ibuku mengikuti Yesus. Kami membaca kisah-kisah Alkitab bersama. Yesus itu kuat. Dia menolong kami.”
Youssef tidak tahu harus berkata apa. Dia pernah mendengar nama Yesus sebelumnya, tetapi tidak seperti ini — bukan sebagai seseorang yang menolong.
Malam itu, saat seruan azan bergema di atas atap-atap rumah, ibu Samira naik ke atas membawa sebuah buku kecil yang dibungkus kain. Ia tersenyum ramah kepada Youssef.
“Apakah kamu ingin mendengar sebuah cerita?” tanyanya.
Youssef mengangguk, penasaran.
Ia membuka buku itu dengan hati-hati dan membaca tentang Yesus yang menenangkan badai. Para murid berada di perahu, ombak menerjang di sekeliling mereka. Mereka mengira mereka mungkin akan tenggelam. Tetapi Yesus berbicara, dan badai pun reda.
Youssef mendengarkan dengan seksama. Dia membayangkan angin dan ombak… lalu keheningan.
Ibu Samira menatapnya. “Yesus tidak takut. Dia memiliki kuasa.”
Malam itu, Youssef berbaring di tempat tidur sambil memikirkan cerita tersebut. Ketika kekhawatiran yang biasanya menghampirinya mulai muncul, ia mencoba sesuatu yang baru.
Dia berbisik, “Yesus… jika Engkau benar-benar ada… tolonglah aku.”
Tidak ada kejadian dramatis. Tidak ada lampu terang. Tidak ada suara keras.
Namun, kedamaian yang tenang menyelimutinya, seperti selimut hangat.
Selama beberapa hari berikutnya, Youssef tak henti-hentinya memikirkan Yesus. Ketika keluarga Samira berkunjung lagi, Youssef meminta cerita lain. Lalu cerita lain lagi.
Ia belajar bahwa Yesus menyembuhkan orang sakit. Ia mengampuni dosa. Ia menerima anak-anak. Ia berbicara dengan kebaikan dan kuasa.
Suatu sore, Youssef mengakui sesuatu kepada Samira.
“Aku ingin mengenal Yesus seperti kamu.”
Samira tersenyum lebar. "Kamu bisa."“
Mereka duduk bersama di atap. Samira membantu Youssef berdoa. Itu tidak mewah. Itu sederhana.
“Yesus… aku ingin menjadi milik-Mu. Tolonglah aku. Ampunilah aku. Bimbinglah aku.”
Youssef merasakan air mata menggenang di matanya, dan dia bahkan tidak tahu mengapa. Dia hanya merasa… lebih ringan. Seperti beban berat yang telah diangkat dari pundaknya.
Sejak saat itu, ketika perasaan yang mengganggu itu kembali, Youssef berdoa lagi. Dan dia terus membaca kisah-kisah Alkitab bersama keluarga Samira setiap kali mereka bisa.
Terkadang, Youssef menggambar ilustrasi dari cerita-cerita itu — sebuah perahu di atas ombak, Yesus dengan tangan terangkat, laut menjadi tenang. Dia menyimpan gambar-gambar itu di dalam tas sekolahnya dan melihatnya ketika dia membutuhkan keberanian.
Youssef mulai memahami sesuatu yang penting:
Yesus lebih kuat dari segala sesuatu yang mengganggu hati kita.
Dan ketika kita memanggil-Nya, Dia menjawab.
Unduh Buku MewarnaiYoussef sedang menyaksikan pawang ular beraksi di alun-alun pasar yang ramai. Ayahnya berlutut di sampingnya sementara keramaian, kios pasar, dan lampion memenuhi latar belakang. Menara-menara tinggi dan bangunan tradisional menjulang di belakang mereka, menunjukkan kehidupan sehari-hari di kota tua Marrakech.
Sambil mewarnai dan mempelajari kata-kata baru, doakan agar anak-anak di Maroko dapat menemukan siapa Yesus itu.
Pengantar Bahasa
Bahasa hari ini adalah bahasa Arab. Latih kata-kata ini sambil berdoa untuk Maroko.
Kata 1
Kekuatan = قوة (Quwwa)
Terdengar Seperti = KOO-wah
Kata 2
Lampu = نور (Noor)
Terdengar Seperti = NOOR
Kata 3
Kebenaran = حق (Haqq)
Terdengar Seperti = HAHK


110 KOTA - Kemitraan Global | Situs oleh Media IPC.
110 CITIES - Proyek IPC a US 501(c)(3) No 85-3845307 | Info lebih lanjut | Situs oleh: IPC MEDIA